Lima Angka Ketenagakerjaan Dunia
Salindia ini menampilkan lima indikator ketenagakerjaan dari World Development Indicators (estimasi model ILO) yang dihimpun World Bank, satu bingkai untuk tiap indikator. Setiap bingkai memuat diagram batang peringkat antarnegara, nilai serta peringkat Indonesia, dan garis tren 2014–2025. Semua angka berasal dari sumber yang sama dan mengacu pada tahun terbaru 2025.
| Unemployment rate | 48 | Tingkat pengangguran Indonesia 3,237% pada 2025, peringkat 48 dari 187 negara |
| Labour force participation rate | 36 | Partisipasi angkatan kerja Indonesia 67,965%, peringkat 36 dari 187 negara |
| Wage and salaried workers | 135 | Pekerja berupah di Indonesia 46,663% dari total pekerja, peringkat 135 dari 187 negara |
| Female-to-male participation ratio | 140 | Rasio partisipasi perempuan terhadap laki-laki di Indonesia 65,2908%, peringkat 140 dari 187 negara |
| Employment in industry | 60 | Pekerja sektor industri di Indonesia 22,5332% dari total pekerja, peringkat 60 dari 187 negara |
Baca tiap bingkai secara terpisah: pada tingkat pengangguran nilai lebih rendah berarti peringkat lebih atas, sedangkan pada empat indikator lain nilai lebih tinggi berarti peringkat lebih atas. Nilai antarbingkai tidak boleh dibandingkan satu sama lain karena definisi, satuan, dan jumlah negara yang tercakup berbeda.
Poin Utama
Dalam tema kerja dan upah, Indonesia tampil kuat pada sisi "seberapa banyak orang bekerja", tetapi tertinggal pada sisi "dalam bentuk apa dan oleh siapa pekerjaan itu dilakukan". Tingkat pengangguran Indonesia tercatat 3,237% pada 2025 dan menempati peringkat 48 dari 187 negara, di bawah nilai dunia 4,791%. Tingkat partisipasi angkatan kerja 67,965% bahkan berada di peringkat 36 dari 187 negara, jauh di atas nilai dunia 60,9793%. Sebaliknya, proporsi pekerja berupah 46,663% hanya menempati peringkat 135 dan rasio partisipasi perempuan terhadap laki-laki 65,2908% berada di peringkat 140, keduanya di bawah nilai dunia (53,5899% dan 69,6202%); porsi pekerja di sektor industri 22,5332% (peringkat 60) berada sedikit di bawah nilai dunia 23,661%.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — estimasi model ILO (SL.UEM.TOTL.ZS, SL.TLF.CACT.ZS, SL.EMP.WORK.ZS, SL.TLF.CACT.FM.ZS, SL.IND.EMPL.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.UEM.TOTL.ZS*
Angka Terbaru Indikator Utama
Indikator pertama dalam edisi ini adalah tingkat pengangguran. Nilai Indonesia untuk 2025 adalah 3,237%, menempatkannya pada peringkat 48 dari 187 negara. Pada indikator ini peringkat disusun dari nilai terendah ke tertinggi, sehingga peringkat 48 berarti Indonesia berada di sepertiga teratas daftar. Nilai dunia untuk indikator yang sama adalah 4,791%, jadi angka Indonesia kira-kira 1,55 poin persentase lebih rendah — sekitar dua pertiga dari tingkat dunia. Perlu dicatat bahwa angka rendah di sini menggambarkan proporsi orang yang menganggur dalam angkatan kerja, bukan kualitas atau imbalan pekerjaan yang tersedia.
*Sumber: World Bank, "Unemployment, total (% of total labor force) (modeled ILO estimate)" (world_bank_wdi: SL.UEM.TOTL.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.UEM.TOTL.ZS*
Negara di Posisi Atas dan Bawah
Pada tingkat pengangguran, posisi teratas ditempati Qatar 0,13%, Kamboja 0,263%, Niger 0,394%, dan Thailand 0,781%, disusul Burundi 0,922%, Chad 1,057%, Laos 1,187%, serta Vietnam 1,523%. Susunan ini mencampur negara pengekspor minyak berpendapatan tinggi dengan negara berpendapatan rendah — dua kelompok yang keadaan pasar kerjanya sangat berbeda. Di ujung bawah terdapat eSwatini 34,202%, Afrika Selatan 32,391%, Jibuti 26,015%, Botswana 24,477%, dan Palestina 24,42%, dengan Afrika bagian selatan tampak menonjol. Indonesia dengan 3,237% berada lebih dekat ke sisi atas daftar, meski selisihnya terhadap Qatar di peringkat 1 mencapai sekitar 3,1 poin persentase, dan terhadap Thailand yang bertetangga sekitar 2,46 poin.
Pola yang berbeda muncul pada indikator lain. Pada partisipasi angkatan kerja, puncaknya diisi Qatar 87,013%, Madagaskar 85,495%, Kepulauan Solomon 84,296%, dan Tanzania 83,716%, sedangkan dasarnya diisi Sao Tome dan Principe 23,342%, Jibuti 31,744%, serta Yaman 33,103%. Pada proporsi pekerja berupah, Qatar 99,1678% dan Bahrain 97,5593% memimpin, sementara Chad 8,4389% dan Niger 10,5221% menutup daftar; Indonesia 46,663% berada di paruh bawah pada indikator ini.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — estimasi model ILO (SL.UEM.TOTL.ZS, SL.TLF.CACT.ZS, SL.EMP.WORK.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.EMP.WORK.ZS*
Perubahan dalam Sepuluh Tahun Terakhir
Kelima indikator memiliki data rangkaian tahun 2014–2025 untuk Indonesia. Tingkat pengangguran bergerak dari 4,049% pada 2014 ke 3,237% pada 2025, turun sekitar 0,81 poin persentase; puncaknya 4,514% pada 2015, sempat turun ke 3,59% pada 2019, naik lagi ke 4,255% pada 2020, lalu menurun bertahap menjadi 3,462% (2022), 3,308% (2023), dan 3,301% (2024).
Tingkat partisipasi angkatan kerja naik dari 66,624% pada 2014 menjadi 67,965% pada 2025, sekitar 1,34 poin, dengan titik tertinggi 68,238% pada 2019 dan titik terendah 65,868% pada 2021. Perubahan terbesar terjadi pada rasio partisipasi perempuan terhadap laki-laki: dari 61,2193% pada 2014 ke 65,2908% pada 2025, naik sekitar 4,07 poin, meski praktis mendatar sejak 65,3136% pada 2019. Proporsi pekerja berupah hampir tidak bergerak — 46,2034% pada 2014, sempat 48,5006% pada 2015, turun ke 45,9544% pada 2023, dan kembali ke 46,663% pada 2025. Porsi pekerja di sektor industri naik tipis dari 21,4983% ke 22,5332%, sekitar 1,03 poin.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — estimasi model ILO (SL.UEM.TOTL.ZS, SL.TLF.CACT.ZS, SL.EMP.WORK.ZS, SL.TLF.CACT.FM.ZS, SL.IND.EMPL.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.TLF.CACT.ZS*
Perbandingan dengan Negara-Negara Terdekat
Di antara tetangga di Asia Tenggara, tingkat pengangguran Indonesia 3,237% lebih tinggi daripada Kamboja 0,263% (peringkat 2), Thailand 0,781% (peringkat 4), Laos 1,187% (peringkat 8), dan Vietnam 1,523% (peringkat 11). Terhadap ekonomi besar dunia, urutannya berbalik: Indonesia berada di bawah Jerman 3,711%, Amerika Serikat 4,198%, Tiongkok 4,615%, Britania Raya 4,746%, dan Prancis 7,542% (selisih 4,31 poin), namun di atas Jepang 2,451% dan Korea Selatan 2,683%.
Pada partisipasi angkatan kerja, Indonesia 67,965% melampaui ketujuh negara pembanding besar — Tiongkok 64,551%, Korea Selatan 64,351%, Jepang 63,448%, Amerika Serikat 61,704%, Britania Raya 61,369%, Jerman 60,571%, dan Prancis 55,346% — tetapi masih di bawah Kamboja 82,392%.
Jarak terlebar muncul pada proporsi pekerja berupah: Indonesia 46,663% terpaut sekitar 15,7 poin dari Tiongkok 62,332%, 30,7 poin dari Korea Selatan 77,3304%, dan 47,3 poin dari Amerika Serikat 93,9262%; di kawasan, Brunei tercatat 92,7288%. Rasio partisipasi perempuan terhadap laki-laki Indonesia 65,2908% juga paling rendah di antara pembanding besar — selisih 12,92 poin dengan Jepang 78,2129%, 13,57 poin dengan Korea Selatan 78,8617%, dan 22,11 poin dengan Britania Raya 87,4032%. Untuk sektor industri, Indonesia 22,5332% mendekati Korea Selatan 23,3828% dan Jepang 23,2287%, di bawah Vietnam 34,8261% dan Tiongkok 31,7923%, tetapi di atas Prancis 19,3392%, Amerika Serikat 18,9123%, serta Britania Raya 15,9141%.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — estimasi model ILO (SL.UEM.TOTL.ZS, SL.TLF.CACT.ZS, SL.EMP.WORK.ZS, SL.TLF.CACT.FM.ZS, SL.IND.EMPL.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.TLF.CACT.FM.ZS*
Cara Membaca Angka Ini
Kelima indikator berasal dari estimasi model ILO (modeled ILO estimate) yang dihimpun World Bank, sehingga angkanya belum tentu sama persis dengan publikasi resmi nasional seperti Sakernas; membandingkan keduanya secara langsung sebaiknya dihindari. Arah peringkat juga tidak seragam: pada tingkat pengangguran nilai yang lebih rendah berarti peringkat lebih atas, sedangkan pada empat indikator lainnya nilai yang lebih tinggi berarti peringkat lebih atas.
Secara definisi, pengangguran mencakup orang yang tidak bekerja tetapi bersedia dan sedang mencari kerja; mereka yang berhenti mencari kerja, maupun yang bekerja lebih sedikit jam daripada yang diinginkan, tidak tercakup di dalamnya. Karena itu angka pengangguran rendah pada beberapa negara di puncak daftar tidak dengan sendirinya dapat dibaca sebagai bukti kondisi kerja yang baik. Tingkat partisipasi memakai penduduk berusia 15 tahun ke atas sebagai penyebut, sehingga dipengaruhi struktur umur penduduk. Proporsi pekerja berupah menunjukkan bentuk hubungan kerja — bekerja dengan upah dari pemberi kerja, bukan berusaha sendiri atau pekerja keluarga — dan bukan tinggi rendahnya gaji. Rasio perempuan terhadap laki-laki adalah perbandingan dua tingkat partisipasi, bukan tingkat partisipasi perempuan itu sendiri, dan tidak memuat informasi tentang upah, jenis kontrak, atau jam kerja.
Meski tema edisi ini menyebut upah, kumpulan data yang dipakai di sini tidak memuat indikator besaran atau tingkat upah, sehingga kesimpulan tentang naik atau turunnya penghasilan tidak dapat ditarik dari angka-angka di atas. Pembaruan bersifat tahunan dan angka tahun terakhir (2025) merupakan estimasi, sehingga selisih sekecil sepersepuluh poin sebaiknya tidak diperlakukan sebagai perbedaan yang berarti.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — estimasi model ILO (SL.UEM.TOTL.ZS, SL.TLF.CACT.ZS, SL.EMP.WORK.ZS, SL.TLF.CACT.FM.ZS, SL.IND.EMPL.ZS), https://data.worldbank.org/indicator/SL.IND.EMPL.ZS*
Tingkat pengangguran dalam peta dan grafik
Tabel disusun dari nilai terendah: Qatar 0,13%, Kamboja 0,263%, dan Niger 0,394% di ujung atas, sementara eSwatini 34,202% dan Afrika Selatan 32,391% di ujung bawah. Indonesia 3,237% berada di sepertiga teratas daftar.
Batang memperlihatkan jarak yang sangat lebar antarnegara, dari 0,13% hingga 34,202%. Garis tren Indonesia turun dari 4,049% pada 2014 ke 3,237% pada 2025, dengan lonjakan sementara ke 4,255% pada 2020.
Bandingkan negara
Tingkat partisipasi angkatan kerja
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Qatar | 87.01 |
| 2 | Madagaskar | 85.5 |
| 3 | Kepulauan Solomon | 84.3 |
| 4 | Tanzania | 83.72 |
| 5 | Nigeria | 82.52 |
| 34 | Oman | 68.38 |
| 35 | Saint Lucia | 68.27 |
| 36 | Indonesia | 67.97 |
| 37 | Saint Vincent dan Grenadine | 67.9 |
| 38 | Makau | 67.85 |
| 185 | Yaman | 33.1 |
| 186 | Jibuti | 31.74 |
| 187 | Sao Tome dan Principe | 23.34 |
Di puncak ada Qatar 87,013%, Madagaskar 85,495%, dan Kepulauan Solomon 84,296%; di dasar ada Sao Tome dan Principe 23,342% serta Jibuti 31,744%. Indonesia berada di atas Tiongkok 64,551% dan Jepang 63,448%.
Sebaran batang membentang lebih dari 60 poin persentase antara ujung atas dan bawah. Garis tren Indonesia naik dari 66,624% pada 2014, sempat turun ke 65,868% pada 2021, lalu kembali ke 67,965%.
Proporsi pekerja berupah dan bergaji
Qatar 99,1678% dan Bahrain 97,5593% memimpin, sedangkan Chad 8,4389% dan Niger 10,5221% menutup daftar. Indonesia 46,663% berada di paruh bawah, jauh di bawah Amerika Serikat 93,9262%.
Batang memperlihatkan pemisahan tajam antara negara berpendapatan tinggi dan negara dengan banyak pekerja mandiri. Garis tren Indonesia nyaris mendatar: 46,2034% pada 2014 dan 46,663% pada 2025.
Rasio partisipasi kerja perempuan terhadap laki-laki
Burundi 103,2831% dan Moldova 100,1232% berada di puncak, sementara Afganistan 7,2907% dan Yaman 7,6157% di dasar. Indonesia 65,2908% berada di bawah Jepang 78,2129% dan Britania Raya 87,4032%.
Rentang batang paling ekstrem di antara kelima indikator, dari sekitar 7% hingga di atas 100%. Garis tren Indonesia naik dari 61,2193% pada 2014 ke 65,2908%, namun hampir datar sejak 65,3136% pada 2019.
Proporsi pekerja di sektor industri
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Oman | 39.44 |
| 2 | Qatar | 38.02 |
| 3 | Bahrain | 34.91 |
| 4 | Ceko | 34.89 |
| 5 | Vietnam | 34.83 |
| 58 | Tanjung Verde | 23.07 |
| 59 | Guatemala | 22.71 |
| 60 | Indonesia | 22.53 |
| 61 | Sao Tome dan Principe | 22.52 |
| 62 | Senegal | 22.5 |
| 185 | Timor Leste | 3.8 |
| 186 | Burundi | 3.1 |
| 187 | Sudan Selatan | 1.67 |
Oman 39,4354%, Qatar 38,02%, dan Ceko 34,8944% berada di puncak, sedangkan Sudan Selatan 1,672% dan Burundi 3,1033% di dasar. Indonesia 22,5332% dekat dengan Korea Selatan 23,3828% dan Jepang 23,2287%.
Batang menunjukkan kelompok industri manufaktur padat seperti Vietnam 34,8261% dan Tiongkok 31,7923% jauh di atas Indonesia. Garis tren Indonesia naik tipis dari 21,4983% pada 2014 ke 22,5332%.